Lesti sangat berterima kasih kepada penulis buku "Merawat Luka Batin" karena telah membantu dia menyembuhkan luka batinnya. Dia memutuskan untuk membagikan buku itu kepada orang-orang lain yang mungkin membutuhkan, agar mereka juga dapat merasakan kedamaian dan kebahagiaan yang dia rasakan.
Perlahan-lahan, Lesti mulai merasa lebih baik. Dia tidak lagi merasa sedih dan putus asa. Dia mulai menemukan kembali kebahagiaan dan kedamaian dalam hidupnya.
Dengan bantuan buku itu, Lesti mulai memahami bahwa luka batin itu tidak dapat dihapus begitu saja, tapi dapat dirawat dan dihadapi. Dia mulai melakukan latihan-latihan yang disarankan dalam buku itu, seperti meditasi, menulis jurnal, dan berbicara dengan orang-orang yang peduli.
Suatu hari, Lesti menyadari bahwa luka batin itu mulai mengganggu kehidupannya. Dia merasa sedih dan putus asa tanpa alasan yang jelas. Dia mencoba berbicara dengan teman-temannya, tapi tidak ada yang bisa membantu.