Mako menatapnya sejenak, mengamati cara cahaya lilin menari di wajah Aisha. “Tentu, masuklah. Aku pikir kita bisa… mengisi kekosongan itu bersama-sama,” jawabnya, suaranya bergetar dengan campuran antisipasi dan rasa ingin tahu.
Mereka berbaring berdekatan, saling memeluk, menikmati keheningan yang menenangkan. “Itu… luar biasa,” kata Aisha, menepuk punggung Mako dengan lembut. “Aku belum pernah merasakannya begitu intens, seperti… satu gerakan yang menyatu dengan jiwa.” MIDD-997 Sensasi Klimaks Bersama-sama a---- Mako ...
Mako menutup pintu apartemen, meletakkan tas kulitnya di lantai, lalu menyalakan lampu redup. Sebuah lilin beraroma melati menunggu di meja samping tempat tidur, menunggu untuk mengusir kebisingan kota. Saat ia menyiapkan minuman, ada ketukan lembut di pintu. Mako menatapnya sejenak, mengamati cara cahaya lilin menari
“Mungkin… kita tidak perlu foto lagi,” bisik Mako, matanya menatap dalam ke dalam mata Aisha. Sebuah lilin beraroma melati menunggu di meja samping
Saat lampu studio semakin redup, keduanya merasakan ketegangan yang perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih panas. Aisha menutup jarak, mencondongkan tubuhnya ke arah Mako, sehingga mereka hampir bersentuhan. Nafas mereka menyatu dalam satu tarikan.
Mako baru saja kembali dari sebuah tur kerja di luar negeri. Ia adalah seorang fotografer mode berusia 28 tahun, dengan mata yang selalu mencari cahaya dan detail. Setelah berbulan‑bulan menembus kota‑kota megah, ia memutuskan untuk beristirahat sejenak di apartemen kecilnya di pusat kota Jakarta. Di antara kotak‑kotak foto yang masih menumpuk, ada satu foto yang belum selesai—sebuah potret hitam‑putih yang diambilnya beberapa minggu lalu di sebuah galeri seni tersembunyi.