Dinda duduk di sampingku di bangku taman yang agak tersembunyi di balik rindangnya pohon trembesi. Jaket hoodie biru mudanya terlihat basah sedikit di bagian bahu.
Dinda tertawa dan menggandeng tanganku. Kami berjalan meninggalkan taman, meninggalkan bangku basah dan jejak kaki di tanah yang becek.
“Deal,” jawabku cepat.
Aku menghela napas. Ini agak memalukan, tapi karena taman sepi dan tidak ada satupun jiwa yang lewat—bahkan satpam pun entah berteduh di mana—aku memberanikan diri.
Hujan gerimis baru saja reda. Taman Kota yang biasanya ramai dengan anak-anak bermain bola dan ibu-ibu ngerumpi, sekarang berubah jadi lautan sunyi. Genangan air memantulkan lampu jalan yang mulai menyala. Hanya ada kami berdua: aku dan Dinda.
Dinda terkesiap. Pipinya yang dingin langsung merona. “A—apa? Di sini? Mas gila ya?”
Setengah jam kemudian, Dinda bangkit dan mengecup pipiku cepat.
Aku tertawa kecil. “Nggak lah. Maksudku nyepong dalam arti manja. Kayak dulu pas awal pacaran. Kamu suka nyender di pangkuanku sambil aku usap rambutmu.”
“Hmm?” Dinda menoleh. Wajahnya temaram kena cahaya senter HP-nya.
Aku mengangguk. “Makanya aku bilang, mumpung sepi. Besok kalau rame lagi, kamu pasti malu-malu.”
Aku menatap matanya. “Aku kangen… sama kamu. Bener-bener kangen.”
“Din… kamu mau… nyepongin aku? Di sini? Mumpung lagi sepi.”
Dinda duduk di sampingku di bangku taman yang agak tersembunyi di balik rindangnya pohon trembesi. Jaket hoodie biru mudanya terlihat basah sedikit di bagian bahu.
Dinda tertawa dan menggandeng tanganku. Kami berjalan meninggalkan taman, meninggalkan bangku basah dan jejak kaki di tanah yang becek.
“Deal,” jawabku cepat.
Aku menghela napas. Ini agak memalukan, tapi karena taman sepi dan tidak ada satupun jiwa yang lewat—bahkan satpam pun entah berteduh di mana—aku memberanikan diri.
Hujan gerimis baru saja reda. Taman Kota yang biasanya ramai dengan anak-anak bermain bola dan ibu-ibu ngerumpi, sekarang berubah jadi lautan sunyi. Genangan air memantulkan lampu jalan yang mulai menyala. Hanya ada kami berdua: aku dan Dinda.
Dinda terkesiap. Pipinya yang dingin langsung merona. “A—apa? Di sini? Mas gila ya?”
Setengah jam kemudian, Dinda bangkit dan mengecup pipiku cepat.
Aku tertawa kecil. “Nggak lah. Maksudku nyepong dalam arti manja. Kayak dulu pas awal pacaran. Kamu suka nyender di pangkuanku sambil aku usap rambutmu.”
“Hmm?” Dinda menoleh. Wajahnya temaram kena cahaya senter HP-nya.
Aku mengangguk. “Makanya aku bilang, mumpung sepi. Besok kalau rame lagi, kamu pasti malu-malu.”
Aku menatap matanya. “Aku kangen… sama kamu. Bener-bener kangen.”
“Din… kamu mau… nyepongin aku? Di sini? Mumpung lagi sepi.”